Pengantar:
Revitalisasi Taman Ismail Marzuki (TIM) periode 2019-2022 masih meninggalkan tantangan pengelolaan kawasan yang kini bergeser dari infrastruktur menuju tata kelola. Perbedaan amanat, orientasi, dan pengelolaan memunculkan fragmentasi kewenangan serta ketegangan antara misi pelayanan publik dan kebutuhan keberlanjutan finansial.
Padahal, TIM menyimpan banyak sekali potensi dalam pengembangan ekosistem seni dan budaya di Jakarta yang dapat memajukan marwahnya sebagai kota global. Dengan pendekatan mixed methods, kami memberikan rekomendasi untuk optimalisasi aset kawasan dan penguatan kapasitas penggalangan dana melalui kemitraan korporasi dan filantropi tanpa menghilangkan fungsi sosial dan kultural TIM.
Berkolaborasi bersama Badan Perencanaan dan Pembangunan Provinsi DKI Jakarta, kami menerbitkan luaran berupa usulan untuk penguatan tata kelola terintegrasi dengan pembentukan Sekretariat Bersama sebagai simpul koordinasi strategis lintas operator pengelola kawasan TIM guna memastikan konsistensi program dan identitas artistik kawasan.