Dalam semangat “Collaborate to Elevate”, Jakarta Future Festival 2025 telah diselenggarakan pada 13–15 Juni 2025 di Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat. Disusun sebagai ruang gagasan dan aksi, festival ini berupaya menjadi momentum strategis yang menyatukan visi, partisipasi, dan kolaborasi lintas sektor untuk mewujudkan Jakarta sebagai kota global yang inklusif dan berdaya saing.
Karsa CityLab, sebagai laboratorium kota yang fokus pada pengembangan perencanaan strategis berbasis pengetahuan dan kolaborasi, dipercaya untuk merancang dan mengembangkan substansi utama festival ini bersama Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPPEDA) Provinsi DKI Jakarta. Dengan pendekatan kuratorial dan tematik, Karsa CityLab turut memastikan bahwa seluruh rangkaian diskusi, aktivasi, hingga hiburan selaras dengan arah kota yang tertuang dalam dokumen Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Provinsi DKI Jakarta 2025-2045, serta memastikan terbukanya ruang aspirasi-partisipasi publik pada rancangan akhir Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi DKI Jakarta 2025-2029.
Selama tiga hari pelaksanaan, lebih dari 300 kolaborator turut berkontribusi dalam 51 panel diskusi, 40 aktivasi komunitas, lebih dari 20 pertunjukan seni, serta ragam instalasi dan pameran interaktif. Pada sesi Talks & Discussion, sebanyak lebih dari 200 pemantik diskusi, yang terdiri dari tokoh pemerintahan, akademisi, profesional, aktivis, dan pelaku industri kreatif bertemu dalam forum terbuka untuk merumuskan gagasan kota secara kolektif. Forum ini tak hanya menjadi ruang konsultatif dan informatif, tetapi juga ruang pemberdayaan yang mendorong kepemilikan bersama atas arah pembangunan Jakarta.
“Sebagai bagian dari proses kreatif ini, Karsa CityLab menghadirkan pendekatan yang menggeser festival dari seremoni menuju forum substantif: Warga tidak hanya menjadi audiens, tetapi juga rekan dialog. Setiap sesi didokumentasikan secara menyeluruh dalam executive notes yang dikelola BAPPEDA DKI Jakarta sebagai masukan nonformal untuk penyusunan RPJMD mendatang,” ungkap Dedi Wijaya, Managing Director Karsa CityLab
Sementara itu, Kepala Bappeda Provinsi DKI Jakarta, Atika Nur Rahmania mengatakan, Jakarta Future Festival 2025 bukan hanya sekadar forum diseminasi rencana pembangunan Jakarta lima tahun ke depan, tetapi juga menjadi tonggak menuju perayaan 500 Tahun Jakarta, sekaligus bagian dari upaya mewujudkan visi kota sebagai salah satu dari Top 20 Global Cities.
“Festival ini diharapkan dapat menjadi ruang perayaan sekaligus refleksi kolektif tentang arah masa depan Jakarta. Dengan mengangkat standar penyelenggaraan yang sejalan dengan isu-isu global, festival ini turut menyuarakan peran Jakarta di tingkat internasional sebagai kota yang visioner dan berorientasi masa depan,” ujar Atika.
Terdapat setidaknya 11 narasumber internasional dihadirkan, mulai dari Prof. Uwe Brandes dari Georgetown University, Prof. Rema Hanna dari Harvard Kennedy School, hingga Safiah Moore dari ARUP. Tak berhenti di sana, tokoh nasional seperti Wakil Menteri Pendidikan Tinggi Sains & Teknologi Stella Christie, Wakil Menteri PPPA RI Veronica Tan, Wakil Menteri Ekonomi Kreatif Irene Umar, hingga Staf Khusus Presiden RI Bidang Ekonomi Kreatif Yovie Widianto turut membagikan gagasannya dalam agenda ini.
Para gubernur terdahulu seperti Sutiyoso, Fauzi Bowo, Basuki Tjahaja Purnama, dan Anies Baswedan turut hadir sebagai narasumber, membagikan perspektifnya soal masa depan Jakarta sesuai dengan kepakarannya masing-masing. Selain itu, beberapa wali kota di Indonesia pun turut hadir dalam sesi panel diskusi kolaborasi antarkota, antara lain Wali Kota Bandung Muhammad Farhan, Wali Kota Surakarta Respati Ardi, Wali Kota Medan Rico Tri, hingga Wali Kota Padang Fadly Amran. Sepanjang tiga hari berlangsung, festival ini turut diramaikan dengan penampilan hiburan dari JKT48, Candra Darusman, Efek Rumah Kaca, D’Masiv, Fajar Noor, Sore Ze Band, dan 20 penampil lainnya.
Jakarta Future Festival 2025 berupaya menjadi contoh bagaimana kebijakan dapat dilahirkan dari ruang dialog yang terbuka dan penuh empati. Sebagai model kolaborasi kota, festival ini memperkuat peran Jakarta sebagai ibu kota yang sedang bertransformasi, serta perwujudan Jakarta sebagai kota ide, kota jejaring, dan kota masa depan. Festival ini hadir sebagai ruang yang memungkinkan warga tidak hanya merayakan kotanya, tetapi juga membayangkan kembali masa depan kota dengan cara yang reflektif, partisipatif, dan visioner.